Kerupuk Lidah Buaya
August 16, 2008 by lebensraum
Kekayaan flora Indonesia membuka banyak celah mengeduk rezeki. Salah satunya adalah usaha kerupuk dari tumbuhan lidah buaya. Peluangnya besar, karena potensi pasar besar dan pemainnya masih sedikit. Tapi risikonya juga besar.
Siapa yang tak kenal kerupuk? Panganan ringan ini boleh jadi merupakan suguhan wajib di setiap acara makan-makan. Mulai hajatan tingkat RT sampai acara resepsi di hotel berbintang. Maklum, selain bikin acara makan jadi meriah karena bunyi kriuk-kriuknya, kerupuk juga nyamleng di lidah. Dan, tentu saja, seperti bobotnya, makanan yang satu ini enteng di kantong.
Kerupuk juga begitu akrab dengan keseharian kita. Malah, selain Negeri Seribu Pulau, negeri kita mungkin layak pula mendapat julukan Negeri Seribu Kerupuk. Beragam jenis kerupuk bermunculan di negeri ini. Kita mengenal kerupuk ikan, kerupuk udang, kerupuk bawang, kerupuk kacang, kerupuk goreng pasir, kerupuk melinjo, kerupuk jengkol, sampai kerupuk beras.
Tapi, pernahkah Anda mendengar kerupuk lidah buaya? Wah, pasti kening Anda sedikit berkerut mendengarnya. Kerupuk lidah buaya memang terbilang jenis kerupuk anyar. Mungkin rada sulit membayangkan tanaman lidah buaya yang dagingnya kenyal berlendir itu bisa menjelma menjadi panganan yang nan garing.
Inilah buah kreativitas Juliana, pengusaha aneka macam makanan dari lidah buaya di Pontianak, Kalimantan Barat. Sejak tahun 2004, perempuan 60 tahun ini sudah sibuk membesarkan bisnis kudapan dari tanaman lidah buaya, salah satunya, ya, kerupuk. “Modal saya dulu kalau dihitung-hitung mencapai Rp 20 juta,” ungkap Juliana. Duit sebanyak itu untuk membeli peralatan dapur, dan mesin untuk mengolah bahan. “Belinya juga enggak sekaligus, mencicil satu per satu,” ungkap dia.
Awalnya, Juliana membikin dodol lidah buaya sebagai produk utama. Seiring waktu, kini ia juga memproduksi camilan jelly dari bahan sama. Selain lidah buaya, ia juga membuat dodol dari nanas dan nangka. Terakhir, mantan pegawai di perusahaan asuransi ini menambah jenis produk. Pilihannya jatuh pada kerupuk. “Kerupuk sudah menjadi favorit di masyarakat kita. Nah, jenis kerupuk lidah buaya ini belum ada yang bikin,” tutur dia.
Tak mudah meramu tumbuhan yang juga beken sebagai penyubur rambut ini menjadi kerupuk. “Bikinnya susah. Saya melakukan riset dan uji coba berulang kali,” kenang Juliana. Uji coba pertama, si kerupuk kempes. Pada percobaan kedua, kerupuknya hangus. Namun, jerih payahnya akhirnya berbuah juga. Setelah satu tahun melakukan percobaan, Juliana akhirnya berhasil menemukan komposisi adonan lidah buaya yang tepat untuk menjadi kerupuk.
Cara bikin kerupuk lidah buaya ini memang gampang-gampang susah. “Seperti membuat tepung lidah buaya, daging atau gel lidah buaya diambil, lalu sisihkan getahnya,” ujar Juliana berbagi resep. Setelah itu, campur dengan tepung tapioka menjadi tepung setengah kering. Campur adonan tersebut dengan telur dan susu. Untuk proporsi dua bahan terakhir itu, Juliana enggan buka kartu. “Rahasia perusahaan,” elaknya.
Adonan itu kemudian tinggal dikukus sampai matang, lalu potong-potong sesuai selera. Setelah itu keringkan, baru kemudian dikemas. Jika proses pembuatannya benar, kerupuk lidah buaya ini bisa awet sampai setahun. Juliana membikin dua pilihan rasa untuk kerupuk aloe vera ini, yaitu bawang putih dan jagung bakar.
Untuk mendapatkan 15 kg gel, butuh sekitar 30 kg lidah buaya. Gel aloe vera sebanyak itu bisa menghasilkan 25 kg kerupuk lidah buaya. “Itu setelah diolah dan dicampur 10 kg tepung tapioka,” imbuhnya. Setiap pekan, khusus untuk kerupuk, Juliana membikin tiga kali sesi adonan. Sekali adonan membutuhkan sebanyak 35kg-40 kg lidah buaya. Gel lidah buaya yang bisa didapat dari lidah buaya sebanyak itu sekitar 18 kg. Setelah mencampurnya dengan 20 kg tepung tapioka dan campuran bahan lain, kerupuk sebanyak 20 kg pun tercipta.
Bisnis kudapan dari lidah buaya besutan Juliana memang lumayan kinclong. Dalam satu pekan saja ia menghabiskan sampai 1 ton lidah buaya untuk memproduksi aneka panganan dari tumbuhan yang juga berkhasiat menjadi penyembuh luka itu.
Untuk pemenuhan bahan baku utama usahanya tersebut, ia tidak mengalami kesulitan. Pontianak yang berhawa panas sudah lama menjadi sentra budidaya tanaman aloe vera itu. Harganya tak mahal. Di kota Khatulistiwa sana, per kilogram lidah buaya berbanderol Rp 1.500-Rp 2.000. “Saya pakai yang berdaging tebal, yang panjangnya sekitar 60 cm sampai 70 cm,” ujar Juliana.
Kini, setelah membesarkan bisnisnya sekian tahun, omzet usaha wanita energik ini bisa mencapai Rp 50 juta setiap bulan. “Kalau hanya menghitung dari barang yang sudah keluar, nilainya sekitar Rp 30 juta,” kata Juliana. Selain menjual langsung ke konsumen, ia juga menyuplai ke hipermarket dan supermarket. Yang membanggakan, camilan dari lidah buaya buatannya kini sudah menjadi buah tangan khas Pontianak.
Sejauh ini produknya masih beredar di sekitar Kalimantan saja. Memang banyak yang berniat untuk memasarkannya ke Jawa. “Namun, setelah dihitung-hitung dengan ongkos transpor, harga jualnya jadi mahal,” cetus dia.
Sejauh ini, ia menjual kerupuk seharga Rp 50.000 per kg. Sebelum kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tempo hari, margin keuntungan Juliana bisa mencapai 30%. Pasca naiknya BBM, kini labanya terpangkas hingga tinggal 15%.
Dibantu tiga karyawan tetap dan empat orang karyawan borongan, Juliana optimistis usahanya bakal terus berkibar. “Pasarnya masih ramai, pemainnya juga masih sedikit,” kata dia. Boleh dibilang, hingga saat ini hanya dia yang nekat membuat kerupuk lidah buaya.
Pendeknya, pasar panganan dari lidah buaya masih terbuka. Juliana memberi tip untuk Anda yang tertarik menerjuni bisnis ini. “Lidah buaya itu sensitif, jika kita salah treatment sedikit, risiko ruginya besar. Jadi, harus tahu ilmunya lebih dulu,” tandas dia. Kalau sudah tahu, Anda tentu ingin mencicipi laba nan garing seperti Juliana, kan?
